Berlangganan
Artikel-Artikel disini
Jadikan artikel ini
favorit kamu!
Jika ada pertanyaan?
Mari kita bahas bersama!

Sea Games

Sea Games Jakabaring Palembang... [ Baca Selengkapnya ]

Kejuaraan Menembak

Kejuaraan penembak jitu ... [ Baca Selengkapnya ]

Gerbang Pemda Way Kanan

Gerbang Pemda Way Kanan di Blambangan Umpu.. [ Baca Selengkapnya ]

Tugu Perahu - Baradatu Way Kanan

Tugu Perahu di Baradatu - Way Kanan... [ Baca Selengkapnya ]

Siswa TKJ Praktek

Siswa/i Teknik Komputer dan Jaringan sedang mendemonstrasikan tentang bagaimana merakit komputer... [ Baca Selengkapnya ]

Tampilkan postingan dengan label Pendidik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2011

Metode Pembelajaran Project Work

1 komentar
Pada penjelasan pelaksanaan pembelajaran yang tertuang pada Lampiran Permendiknas Nomor 41 tahun 2007, tentang Standar Proses, II poin C, dinyatakan tentang beberapa model pembelajaran alternatif yang dapat dikembangkan dan digunakan secara inovatif sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapi di kelas serta untuk mendukung iklim belajar PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan). Iklim belajar PAKEM diharapkan dapat menumbuhkembangkan secara optimal multi kecerdasan yang dimiliki setiap peserta didik. Model-model pembelajaran yang dapat digunakan terkait dengan iklim belajar PAKEM antara lain adalah Project Work.

Project work adalah model pembelajaran yang mengarahkan peserta didik pada prosedur kerja yang sistematis dan standar untuk membuat atau menyelesaikan suatu produk (barang atau jasa), melalui proses produksi/pekerjaan yang sesungguhnya. Model pembelajaran project work sering digunakan untuk program pembelajaran produktif.

Pembelajaran dengan pendekatan Project Work  dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

Guru menyampaikan:
  • Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
  • Strategi pembelajaran dengan pendekatan project work
  • Alternatif judul/nama produk/jasa yang dapat dipilih peserta.
  • Ruang lingkup standar kompetensi yang akan dipelajari oleh peserta didik untuk setiap judul/nama produk/jasa 
  • Menyusun dan menetapkan pedoman penilaian kompetensi sesuai dengan judul project work 
  • Memfasilitasi bimbingan kepada peserta didik dengan memanfaatkan lembar bimbingan.
Peserta didik
  • Memilih salah satu judul/nama produk/jasa. Dan menyusun rencana Project Work sesuai dengan judul yang dipilih.  
  • Melakukan proses belajar sesuai dengan proses produksi yang telah direncanakan. Kegiatan dilakukan sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam proposal di bawah bimbingan dan pengawasan guru. 
  • Proses belajar menekankan pada pencapaian standar kompetensi yang dibuktikan dengan bukti belajar (learning evidence) dan diorganisasi dalam bentuk portofolio. 
  • Mengorganisasi bukti belajar sebagai portofolio. 
  • Melaksanakan kegiatan kulminasi (presentasi/ pengujian/ penyajian/ display). 
  • Menyusun laporan sesuai dengan pengalaman belajar yang diperoleh.

Read More →

Kamis, 15 Desember 2011

Metode Berfikir dan Berbagi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar

0 komentar
Penerapan Metode Berfikir dan berbagi (Thing Pair and share Method) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada Standar Kompetensi Melaksanakan Instalasi Personal Computer. 

Sekolah menengah kejuruan (SMK) merupakan pendidikan kejuruan tingkat menengah atas yang disediakan pemerintah dalam rangka menyiapkan tenaga kerja siap pakai. Hal ini sesuai dengan tujuan instruksional pendidikan menengah kejuruan yaitu siswa diharapkan menjadi tenaga profesional yang memiliki keterampilan yang memadai, produktif, kreatif dan mampu berwirausaha. Untuk itu perlu kiranya siswa SMK dibekali dengan kemampuan dasar dan keterampilan teknik yang memadai.

Namun dalam kenyataannya proses belajar mengajar yang berlangsung di sekolah khususnya SMK saat ini masih belum seluruhnya berpusat pada siswa. Hal ini terbukti dengan masih seringnya digunakan model ceramah atau konvensional yang hampir pada semua mata pelajaran . Padahal tidak semua materi  harus diajarkan dengan model ceramah atau konvensional. Kenyataan pengajaran yang seperti ini menunjukkan bahwa pemilihan strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi pokok sangatlah penting.

Salah satu model yang dapat mengarahkan kepada siswa untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung adalah model pembelajaran Think-Pair-Share.

Model pembelajaran Think-Pair- Share dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Model pembelajaran Think-Pair-Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana. Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa (Lie, 2004:57). 

Model pembelajaran Think-Pair-Share adalah salah satu model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain.

Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain (Nurhadi dkk, 2003 : 66). Sebagai contoh, guru baru saja menyajikan suatu topik atau siswa baru saja selesai membaca suatu tugas, selanjutnya guru meminta siswa untuk memikirkan permasalahan yang ada dalam topik/bacaan tersebut.


Read More →

Sabtu, 19 November 2011

MENDIKNAS GELORAKAN SLOGAN: `SMK BISA!`

0 komentar
Sumber : www.ditpsmk.net

JAKARTA - Siswa SMK bisa ternyata mampu melahirkan karya-karya kreatif dan inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat.

Karena itu, mari kita tingkatkan motivasi para peserta didik SMK untuk maju dengan motto "SMK Bisa !!!" sekali lagi "SMK Bisa!!!".
Demikian dikemukakan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo ketika membuka Lomba Kompetensi Siswa SMK Tingkat Nasional ke-17 dan Pameran Kreasi Siswa SMK Tahun 2009, Kamis (21/5). Hadir dalam kesempatan itu Dirjen Mandikdasmen Suyanto, Direktur PSMK Joko Sutrisno, mantan Mendikbud Wardiman Djojonegoro.
"Lomba Kompetensi Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (LKS SMK) Tingkat Nasional dan Pameran Kreasi Siswa SMK ini salah satu instrumen pencitraan untuk pencapaian peningkatan akses dan pemerataan serta peningkatan mutu pendidikan," jelas mendiknas.
Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia kerja dan meningkatkan kerjasama yang lebih erat antara SMK dengan mitra industri. Kami percaya, tujuan tersebut dapat tercapai karena semua stakeholders telah mendukung dan mengambil peran sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.
Mendiknas juga mengharapkan kompetisi ini mampu mendorong generasi muda untuk menyiapkan diri agar berkiprah di arena kompetisi tingkat Asia melalui Asian Skill Competition (ASC) dan di tingkat International melalui World Skill Competition (WSC). "Ajang LKS ini dapat pula dijadikan promosi tamatan SMK kepada para pengguna lulusan, sehingga tamatan SMK dapat berperan aktif dalam meningkatkan perekonomian Indonesia," tegasnya.
Bersamaan dengan LKS ini diselenggarakan pula Pameran Kreasi Siswa SMK yang merupakan kegiatan sinergi SMK dengan para mitra industrinya.LKS siswa SMK yang meliputi bidang Teknologi, Bisnis, Pariwisata, Pertanian dan Seni Kria merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari pembangunan sumberdaya manusia.
Mendiknas menyatakan, melalui pameran ini kita dapat melihat bahwa siswa SMK bisa menunjukkan kemampuannya dan diharapkan mampu mendorong generasi muda untuk terus berkreasi melahirkan karya karya inovatif yang bermanfaat. "Mari kita tingkatkan motivasi para peserta didik SMK untuk maju dengan motto "SMK Bisa !!!" sekali lagi "SMK Bisa!!!". (mya) -Harian Terbit- (22 Mei 2009)
Read More →

Rabu, 26 Oktober 2011

Budaya dan Karakter

0 komentar
Pada prinsipnya, pengembangan budaya dan karakter bangsa tidak dimasukkan sebagai
pokok bahasan tetapi terintegrasi ke dalam mata pelajaran, pengembangan diri, dan
budaya sekolah. Oleh karena itu, guru dan sekolah perlu mengintegrasikan nilai-nilai
yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa ke dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Silabus dan Rencana Program
Pembelajaran (RPP) yang sudah ada.

Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan pendidikan budaya dan
karakter bangsa mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai
budaya dan karakter bangsa sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas
keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan,
menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan
keyakinan diri. Dengan prinsip ini, peserta didik belajar melalui proses berpikir,
bersikap, dan berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan
kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan sosial dan mendorong peserta
didik untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk sosial.

Sumber : Bahan Pelatihan Pengembangan Pendidikan Budan dan Karakter Bangsa
Kemdiknas Balitbang Puskur
Read More →

Usaha Peningkatan Kualitas Pendidikan

0 komentar
Usaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah secara lebih profesional adalah salah satu tugas guru.

Guru harus mampu berpikir dan merefleksi mengenai apa saja kekurangan yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasi masalah dalam pembelajaran yang dikelolanya. Menurut Mulyasa (2004: 105) terdapat berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran antara lain : peningkatan aktivitas dan kreatifitas peserta didik, peningkatan disiplin belajar, dan peningkatan motivasi belajar.

Read More →

Motivasi Belajar

0 komentar
Motivasi Instrinsik
Motivasi instrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam individu yang berfungsinnya tidak perlu dirangsang dari luar. Seseorang yang memiliki motivasi instrinsik dalam dirinya maka secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya.

Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbbul dari luar individu yang berfungsinya karena adanya perangsang dari luar, misalnya adanya persaingan, untuk mencapai nilai yang tinggi, dan lain sebagainya.
Read More →

Rabu, 28 September 2011

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap Kurang Disiplin

0 komentar
Sikap siswa kurang disiplin di sekolah dipengaruhi dari berbagai faktor. Hal ini karena siswa  berasal dari berbagai latar belakang kehidupan sosial ekonomi maupun derajat pendidikan orang tuanya. Faktor –faktor tersebut diantaranya adalah

  1. Teman bergaul. Anak yang bergaul dengan anak  yang kurang baik perilakunya akan berpengaruh terhadap anak yang diajaknya berintraksi sehari hari..
  2. Cara hidup di lingkungan anak tinggal.  Anak yang tinggal di lingkungan hidupnya kurang baik, maka anak akan cendrung bersikap dan berperilaku kurang baik pula.
  3. Sikap orang tua. Anak yang dimanjakan oleh orang tuanya akan cendrung kurang bertanggung jawab dan takut menghadapi tantangan dan kesulitan kesulitan, begutu pula seballiknya anak yang sikap orang tuanya otoriter, maka anak akan menjadi penakut dan tidak berani mengambil keputusan dalam bertindak.
  4. Keluarga yang tidak harmonis. Anak yang tumbuh dikeluarga yang kurang harmonis ( home broken ) biasanya akan selalu mengganggu teman dan sikapnya kurang disiplin.
  5. Latar belakang kebiasan dan budaya. Budaya dan tingkat pendidikan orang tuanya akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku anak. Anak yang hidup dikeluarga yang baik dan tingkat pendidikan orang tunya bagus maka anak akan cendrung berperilaku yang baik pula.

Read More →

Senin, 08 Agustus 2011

Modal Dasar Seorang Guru

0 komentar
Sebenarnya, modal apa sajakah yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru agar benar-benar mampu menjadi terdepan dalam perubahan jaman? Berikut adalah sejumlah kriteria yang menjadi bahan pertimbangan bagi guru maupun bagi calon guru agar mampu tampil sempurna di depan anak didiknya;
  1. Kecerdasan spiritualnya memadai, kecerdasan spiritual merupakan modal dasar bagi seorang guru untuk menjadi sosok yang diharapkanmampu memberikan pencerahan batin bagi anak didiknya.

  2. Kecerdasan emosinya cukup; kemampuan emosional merujuk pada kecakapan untuk mengelolah batinnya sendiri dan batin anak didiknya dan kemampuan untuk memberikan motivasi,baik kepada dirinya sendiri maupun kepada anak didiknya.

  3. Kecerdasan Intelektualnya lumayan; Yang dimaksud lumayan itu apabila ia mampu menguasai bidang yang diajarkan dengan baik. Disamping itu nalarnya tidak mandeg sehingga tanggap terhadap perkembangan baru terutama yang berkaitan dengan bidangnya.

  4. Memiliki kemampuan berbicara; Yang dimaksud memiliki kemampuan berbicara adalah apabila ia menerangkan, dapat diterima dan dimengerti oleh anak didiknya.

  5. Sabar menghadapi anak didiknya; Seorang guru mestinya identik dengan seorang yang matang jiwanya. Mampu berpikir dewasa dan sabar dalam menghadapi kendala apapun yang menghalangi tugas-tugasnya.

  6. telaten membimbing anak didiknya ; Ketelatenan akan mengubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Semua guru seyogyanya memiliki sifat telaten dalam membimbing anak didiknya. jangan terburu-buru karena ingin nyambi di tempat lain atau ingin segera cepat-cepat pulang untuk cari obyekan.Yang kasihan adalah anak didik, mereka tak mungkin menangkap dengan baik materi yang diajarkan.

  7. Memiliki kedisiplinan yang tinggi; Disiplin merupakan faktor penting pembentuk karakter para anak didik.Profesionalisme seorang guru bisa diukur dari tingkat kedisiplinannya dalam menjalani profesinya Disiplin bukan hanya terbatas oleh soal waktu, namun juga menyangkut perilaku yang lain seperti kerapian berpakaian, dan lain sebagainya.

  8. Komunikatif ; Seorang guru dituntut untuk mampu komunikatif dengan anak didiknya. Ia harus berusaha menghilangkan kesenjangan psikologis yang biasanya menghambat hubungan antara guru dan anak didik. Guru harus membangun kedekatan dengan anak didiknya, namun tetap menjaga wibawanya sebagai seorang guru.

  9. Memiliki kepekaan dan kepedulian; Kepedulian, betapa langkanya sekarang. Ketika setiap orang cenderung memikirkan perutnya sendiri, para guru bahu membahu membantu anak didiknya agar bisa terus sekolah. Diantaranya ada yang harus membagi gajinya untuk membantu biaya transportasi anak didiknya yang rumahnya jauh dari sekolah dan harus berjalan kaki karena tidak punya sepeda.

  10. Memiliki jiwa pendidik; Berbeda dengan profesi lain yang lebihbanyak mengelola benda-benda mati, tugas guru jauh lebih berat. karena mereka langsung berhadapan, dan bukan sekedar berhadapan tetapi juga berdialog dengan kewajiban mencerdaskan obyek yang diajak berdialog tersebut.Guru berkewajiban mengelola potensi manusiawi yang berupa murid yang semula tidak tahu apa-apa menjadi tahu segalanya. Disini diperlukan sebuah "jiwa"/ "ruh", sehingga proses belajar-mengajar tidak terkesan formalitas.Dengan kata lain, guru berkewajiban memiliki jiwa pendidik dalam dirinya.

Sumber data : http://rhanimahrani.blogspot.com/
Read More →

Pendidikan Yang Memotivasi dan Pendidikan Yang Mengancam

0 komentar

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?" "Dari Indonesia," jawab saya. Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini, "lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! " Dia pun melanjutkan argumentasinya.

"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Ini bukanlah untuk menunjukan bahwa negara lain lebih hebat daripada negara Indonesia, tapi marilah kita mencontoh sesuatu yang baik darimanapun negaranya.

Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti." Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
Read More →

Tips Mengatasi Anak pemarah

0 komentar

Mungkin Anda sebagai orang tua pernah menemukan sikecil yang tiba-tiba panik, mengamuk, menjerit, berguling,guling, menangis, menyatakan mengapa anak marah, atau hanya diam sebagai ungkapan dari kemarahan si kecil.

Setiap anak memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, ada yang mudah marah dan ada yang tidak. Pada dasarnya, amarah adalah emosi negatif yang muncul ketika keinginan tidak terpenuhi. Kemarahan sering dikaitkan dengan frustasi yang sangat wajar dan sehat jika diekspresikan dengan wajar pula.

Ada dua aspek perkembangan anak yang sangat terkait denga munculnya kemarahan, yaitu perkembangan (self,ego) dan perkembangan bahasa. Ketika rasa ini sudah berkembang, anak mulai banjir keinginan  yang terkdang berbeda dengan apa yang dipiirkan orang tua. Oleh karena itu, usia 2-4 tahun dikenal sebagai masa negativistik.

Jika tidak dibarengi dengan sikap yang sehat, perkembangan ini pun menjadi tidak sehat. Akibatnya anak akan mengalami kesulitan untuk mengekspresikan kemarahannya dengan kata sehingga mereka cenderung berteriak, mengamuk, dan menangis. Hal ini akan mengganggu perkembangan psikis dan fisik anak.

Berikut beberapa tip untuk mengatasi masalah ini seperti.

1. Penuhi kebutuhan dasar anak

Pastikan anak tidak lapar, haus, dan tidka lelah untuk mencegah kemarahan anak.

2. Kenali ambang toleransi anak

Setiap anak terlahir dengan ambang toleransi yang berbeda-beda. Terkadang anak mudah menghadapi kebisingan, pengalaman baru, kesesakan ruangan, dll. Tetapi, ada anak yang sulit menghadapi situasi seperti ini. Memahami ambang toleransi anak akan menghindari situasi amarah yang tidak sehat.

3. Pelajari tanda munculnya kemarahan

Pelajari tanda awal kemarahan anak seperti gusar, rewel, atau manja. Sehingga anda bisa mengantisipasi kemarahan anak.

4. Pilih medan peperangan yang tepat

Tidak usah bertentangan dengan anak selama tidak berkaitan dengan prinsip. Berikan pilihan atau negosiasi hingga mencapai kesepakan bersama.
Read More →

10 Trik Mendidik Anak

0 komentar

Kesehatan Ibu Dan Anak Kadang sibuk dengan pekerjaan atau rutinatas sehari-hari orang tua kurang memperhatikan buah hatinya. Untuk membuatnya tetap merasa diperhatikan dan spesial di mata anak, tak ada salahnya sekali-sekali kita lakukan hal kecil yang membuatnya bahagia.


10 hal di bawah seperti dikutip selfgrowth, bisa membuat si kecil terus merasa istimewa.

1. Jangan Sepelekan Sapaan
Sapaan kepada si kecil merupakan hal kecil tapi penting. Setiap bertemu atau berpisah jangan lupa selalu memberikan sapaan. Bilang bertemu sapalah si kecil dengan gembira, menandakan Anda senang bertemu dengannya.

2. Berikan Sentuhan
Sekadar usapan, pelukan hangat usai pulang kantor, serta kecupan sepulangnya dari sekolah membuat anak selalu merasa disayang. Tak pernah ada kata terlalu banyak untuk sentuhan sayang kepada anak.

3. Lakukan Kegiatan Spesial
Pergi berdua dengan si kecil paling tidak satu bulan sekali. Pergi ke tempat yang anda bisa fokus dengannya. Bermain di taman, makan es krim bersama, dan lakukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak interaksi dengannya. Tapi jangan lupa pilih juga kegiatan yang dia suka, jangan ajak dia berjalan-jalan di mal padahal ia tidak menikmatinya. Baik Anda maupun anak harus sama-sama senang.

4. Selalu Duduk Bersama
Minta ia untuk duduk di sebelah Anda saat makan malam, di mobil atau ketika menonton bioskop. Timbulkan perasaan Anda selalu ingin berada di dekatnya.

5. Pantau Kegiatan
Dengan mengetahui jadwal ujian, les, atau jadwal menginap bersama teman ia merasa diperhatikan. Ingat juga jadwal jalan-jalan yang Anda janjikan kepadanya. Usahakan untuk tidak membatalkan kegiatan yang pernah Anda janjikan kepadanya. Jika ia sedang menghadapi ujian, bersikaplah mendukung. Katakan juga kepadanya kalau Anda ikut mendoakan supaya ia sukses dalam ujiannya.

6. Nama Spesial
Ciptakan nama spesial khusus Anda berdua. Panggil ia dengan nama khusus, begitu juga sebaliknya. Hal yang hanya eksklusif milik Anda berdua itu akan membuatnya merasa spesial.
7. Minta Perhatiannya
Sekali-sekali tak ada salahnya minta dicium dan dipeluk oleh si kecil. Anak Anda akan merasa senang memiliki perasaan diinginkan dan dibutuhkan.

8. Libatkan dalam Keputusan
Jika memungkinkan libatkan ia dalam membuat keputusan kecil atau besar. Misalnya menyusun menu makanan atau memilih shampoo mana yang akan dibeli. Jika akan membeli mobil baru, tanya juga pendapatnya warna apa yang dia suka. Anak kecil akan timbul rasa percaya diri dan dibutuhkan jika sering dimintai dan dipercaya pendapatnya.

9.Percaya Padanya
Beri ia kepercayaan dan tanggung jawab seakan-akan ia orang dewasa. Ajari ia cara menggunakan kamera lalu minta ia untuk mengambil gambar Anda. Izinkan juga ia membantu kegiatan rumah tangga semampunya. Libatkan ia dalam kegiatan memasak misalnya mencampur adonan atau membentuk kue.

10. Pesan Spesial
Tinggalkan pesan-pesan spesial yang membuatnya merasa disayang. Jika Anda pergi sebelum ia bangun tidur, tulis pesan di kertas kecil dan letakkan di samping tempat tidurnya. Katakan Anda merindukannya dan tak sabar untuk segera bermain dengannya lagi. Jika Anak membawa bekal sekolah tak ada salahnya sekali-sekali menyisipkan pesan yang menyemangatinya belajar. Perhatian-perhatian kecil seperti itu besar artinya bagi anak. (walipop)
Read More →

Mengenal Berbagai Jenis Kecerdasan Anak

0 komentar

Selama ini, banyak dari kita yang hanya mementingkan IQ semata. Kita bangga kalau anak juara olimpiade fisika namun kita menyepelekan jika ada yang jago menari, pandai bergaul, pandai bahasa, olahraga dan sejenisnya. Padahal kejeniusan bukan semata-mata memiliki IQ diatas 130, namun jenius bisa dimiliki anak dibidang manapun (seni, olahraga, sastra, kepemimpinan dll).

Parahnya lagi, sekolah kita mewajibkan tiap anak harus cakap dalam segala bidang. Sehingga pada kasus ujian nasional, seringkal mereka yang jenius dalam bidang olahraga atau seni harus tidak lulus karena gagal pada bidang matematika.

Dimasa depan, Indonesia harus memiliki guru-guru yang mampu memberikan motivasi kepada anak didiknya. Sudah bukan jamannya lagi guru killer yang kerap memberikan hukuman fisik berupa tamparan, mempermalukan di depan kelas dan lain sejenisnya. Tidak mengherankan jika hanya sedikit anak yang menyukai sekolah. Mereka hanya senang jika bel istirahat dan pulang sekolah berbunyi. Dimasa depan, sekolah juga harus memahami model kecerdasan tiap muridnya sehingga kurikulum akan sesuai dengan model kecerdasan tiap anak.

Berkaitan dengan kecerdasan, Howard Gardner, dalam bukunya Multiple Intelligences (Kecerdasan Ganda), membagi kecerdasan anak dalam spektrum yang cukup luas.

1. Kecerdasan matematika dan logika atau cerdas angka

Memuat kemampuan seorang anak berpikir secara induktif dan deduktif, kemampuan berpikir menurut aturan logika dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah melalui kemampuan berpikir. Anak-anak dengan kecerdasan matematika dan logika yang tinggi cenderung menyenangi kegiatan analisis dan mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu.

Mereka menyenangi cara berpikir yang konseptual, misalnya menyusun hipotesis, mengategori, dan mengklasifikasi apa yang dihadapinya. Anak-anak ini cenderung menyukai aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan yang tinggi dalam menyelesaikan problem matematika.

Bila kurang memahami, mereka cenderung bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahaminya. Anak-anak yang cerdas angka juga sangat menyukai permainan yang melibatkan kemampuan berpikir aktif seperti catur dan bermain teka-teki. Setelah remaja biasanya mereka cenderung menggeluti bidang matematika atau IPA, dan setelah dewasa menjadi insinyur, ahli teknik, ahli statistik, dan pekerjaan-pekerjaan yang banyak melibatkan angka.

2. Kecerdasan bahasa atau cerdas kata

Memuat kemampuan seorang anak untuk menggunakan bahasa dan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasannya. Anak-anak dengan kemampuan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan bahasa seperti membaca, membuat puisi, dan menyusun kata mutiara.

Anak-anak ini cenderung memiliki daya ingat yang kuat akan nama-nama orang, istilah-istilah baru, maupun hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal kemampuan menguasai bahasa baru, anak-anak ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Pada saat dewasa biasanya mereka akan menjadi presenter, pengarang, penyair, wartawan, penerjemah, dan profesi-profesi lain yang banyak melibatkan bahasa dan kata-kata.

3. Kecerdasan musikal atau cerdas musik

Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di sekelilingnya, dalam hal ini adalah nada dan irama. Anak-anak ini senang sekali mendengar nada-nada dan irama yang indah, mulai dari senandung yang mereka lakukan sendiri, dari radio, kaset, menonton orkestra, atau memainkan alat musik sendiri. Mereka lebih mudah mengingat sesuatu dengan musik. Saat dewasa mereka dapat menjadi penyanyi, pemain musik, komposer pencipta lagu, dan bidang-bidang lain yang berhubungan dengan musik.

4. Kecerdasan visual spasial atau cerdas gambar

Memuat kemampuan seorang anak untuk memahami secara lebih mendalam mengenai hubungan antara objek dan ruang. Anak-anak ini memiliki kemampuan menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya, atau menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi. Setelah dewasa biasanya mereka akan menjadi pemahat, arsitek, pelukis, desainer, dan profesi lain yang berkaitan dengan seni visual.

5. Kecerdasan kinestetik atau cerdas gerak

Memuat kemampuan seorang anak untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah. Hal ini dapat dijumpai pada anak-anak yang unggul dalam bidang olah raga, misalnya bulu tangkis, sepak bola, tenis, renang, basket, dan cabang-cabang olah raga lainnya, atau bisa pula terlihat pada mereka yang unggul dalam menari, bermain sulap, akrobat, dan kemampuan-kemampuan lain yang melibatkan keterampilan gerak tubuh.

6. Kecerdasan inter personal atau cerdas teman

Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah dalam bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan ini disebut juga kecerdasan sosial, dimana seorang anak mampu menjalin persahabatan yang akrab dengan teman-temannya, termasuk berkemampuan memimpin, mengorganisasi, menangani perselisihan antar teman, dan memperoleh simpati dari anak yang lain. Setelah dewasa mereka dapat menjadi aktivis dalam organisasi, public relation, pemimpin, manajer, direktur, bahkan menteri atau presiden.

7. Kecerdasan intra personal atau cerdas diri

Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Mereka cenderung mampu mengenali kekuatan atau kelemahan dirinya sendiri, senang mengintropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya dan kemudian mencoba untuk memperbaiki dirinya sendiri. Beberapa di antara mereka cenderung menyenangi kesendirian dan kesunyian, merenung dan berdialog dengan dirinya sendiri. Saat dewasa biasanya mereka akan menjadi ahli filsafat, penyair, atau seniman.

8. Kecerdasan naturalis atau cerdas alam

Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam terbuka seperti cagar alam, gunung, pantai, dan hutan. Mereka cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, flora dan fauna, bahkan benda-benda di ruang angkasa. Saat dewasa mereka dapat menjadi pecinta alam, pecinta lingkungan, ahli geologi, ahli astronomi, penyayang binatang, dan aktivitas-aktivitas lain yang berhubungan dengan alam dan lingkungan.

Dengan konsep Multiple Intelligences (Kecerdasan Ganda) ini, Howard Gardner ingin mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan, bahwa seolah-olah kecerdasan hanya terbatas pada hasil tes intelegensi yang sempit saja, atau hanya sekadar dilihat dari prestasi yang ditampilkan seorang anak melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka.

Anak-anak unggul pada dasarnya tidak akan tumbuh dengan sendirinya, mereka memerlukan lingkungan subur yang diciptakan untuk itu. Oleh karena itu diperlukan kesungguhan dari orang tua dan pendidik untuk secara tekun dan rendah hati mengamati dan memahami potensi anak atau murid dengan segala kelebihan maupun kekurangannya, dan menghargai seriap bentuk kecerdasan yang berlainan.

Nah, termasuk kategori yang mana kecerdasan sobat baraya waktu kecil dahulu atau kecerdasan putra-putri sobat baraya? Ataukah kecerdasan kita termasuk perpaduan dari dua atau lebih dari tipe kecerdasan yang ada?
Read More →